Materi Pembelajaran di Internet, Apa dan Bagaimana?

Pembelajaran menggunakan Internet

“Materi pembelajaran di intrenet haruslah mengandung unsur aktif, kolaborasi, kreatif, integrative, dan dapat dievaluasi”

Berdasarkan data Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) pengguna internet hingga 2007 sebesar 25 Juta orang, dan diperkirakan terus bertambah hingga 40 juta orang pada tahun 2008, seiring dengan semakin menurunnya tarif jasa internet.

Juga terdapat sekitar 274 Perusahaan Penyedia Jasa Internet, yang memberi layanan sekitar 4000 usaha warnet dan ribuan pengguna individu maupun korporat. Seiring dengan hal tersebut pmbelajaran melalui internet semakin marak diperbincangkan dan digulirkan. Hampir setiap perguruan tinggi memiliki system pembelajaran berbasis internet.
Berbicara mengenai pembelajaran di internet, tak ubahnya dengan berbicara tentang e-learning. Seperti diketahui bersama, e-learning adalah suatu pembelajaran yang dilakukan secara elektronik, baik melalui sarana yang bersifat online maupun offline. Dalam hal ini yang menjadi titik acuan adalah apa dan bagaimana materi pembelajaran di internet.
Beberapa orang masih salah mengartikan konsep sebuah e-learning. Tidak jarang situs-situs yang hanya meletakkan softcopy (file : red) sebuah buku dalam sebuah situs.
Terkait dengan hal itu, sebelum berbicara mengenai materi, hal yang tak kalah penting dalam sebuah pembelajaran di internet adalah tujuan dari pembelajaran itu sendiri. Apakah hanya sebatas menyampaikan materi ataukah ada misi yang lebih besar dibalik materi itu sendiri?
Victoria L Tinio, dalam bukunya ICT in Education mengungkapkan bahwa tujuan sebuah pembelajaran dengan ICT (Teknologi Informasi dan Komunikasi: red) yaitu sebagai sarana untuk menyebarluaskan pembelajaran.(hal.8)
Namun dalam hal ini, kemampuan untuk menggunakan dan memanfaatkan ICT juga sangat berpengaruh terhadap efektif tidaknya pembelajaran di internet. Tidak hanya sumber daya manusia melainkan infrastruktur jaringan juga sangat penting dalam terselenggaranya pembelajaran di internet.
Terlepas dari SDM dan infrastruktur pembelajaran di internet, konten menjadi faktor penentu dari pembelajaran itu sendiri. Yang menjadi pertanyaan besar adalah, seperti apakah materi pembelajaran di internet itu seharusnya?

Apapun tema dari pembelajaran tersebut, tidak terlepas dari beberapa faktor yakni bersifat aktif, mengandung unsur kolaborasi sebagai kekayaan sebuah ilmu, kreatif, dapat diintegrasi, dan dapat dievaluasi.

Sumber: Thijs, A., et al. Learning Through the Web http://www.decidenet.nl/Publications/Web_Based_Learning.pdf.

Dapat dibandingkan kelebihan dan kekurangan antara pembelajaran dengan bantuan internet (ICT) dengan pembelajaran konvensional. Dengan materi yang terkolaborasi, proses belajar semakin produktif. Prinsip integrasi antara teori dan praktik dalam pembelajaran di internet lebih mudah dilaksanakan meski hanya melalui simulasi. Dan yang terpenting, warga belajar dapat memilih apa yang ingin dipelajari sesuai dengan minatnya. Forum-forum dalam pembelajaran di internet sangat memungkinkan untuk menyelesaikan masalah, karena banyak “guru” yang bisa menjawabnya dikarenakan sifat terbuka dalam pembelajaran model ini.
Secara umum materi pembelajaran di internet sedapat mungkin mengandung unsur interaktif, sehingga dapat dievaluasi. Hal ini yang mendasari konsep e-learning yang di bangun oleh beberapa komunitas di dunia. Aplikasi seperti A-Tutor, DokeOS, Moodle dan Learning management system lainya telah menggunakan prinsip dasar sebuah pembelajaran di internet secara ideal. Konsep pembelajaran jarak jauh, itulah kuncinya.
Jika berkaca dari sejarah perkembangan pembelajaran di internet sebagaimana diungkap dalam situs wikipedia (http://id.wikipedia.org/wiki/Pembelajaran_elektronik) seperti berikut.
1) Tahun 1990 : Era CBT (Computer-Based Training) di mana mulai bermunculan aplikasi e-learning yang berjalan dalam PC standlone ataupun berbentuk kemasan CD-ROM. Isi materi dalam bentuk tulisan maupun multimedia (Video dan AUDIO) DALAM FORMAT mov, mpeg-1, atau avi.
(2) Tahun 1994 : Seiring dengan diterimanya CBT oleh masyarakat sejak tahun 1994 CBT muncul dalam bentuk paket-paket yang lebih menarik dan diproduksi secara massal.
(3) Tahun 1997 : LMS (Learning Management System). Seiring dengan perkembangan teknologi internet, masyarakat di dunia mulai terkoneksi dengan internet. Kebutuhan akan informasi yang dapat diperoleh dengan cepat mulai dirasakan sebagai kebutuhan mutlak , dan jarak serta lokasi bukanlah halangan lagi. Dari sinilah muncul LMS. Perkembangan LMS yang makin pesat membuat pemikiran baru untuk mengatasi masalah interoperability antar LMS yang satu dengan lainnya secara standar. Bentuk standar yang muncul misalnya standar yang dikeluarkan oleh AICC (Airline Industry CBT Commettee), IMS, SCORM, IEEE LOM, ARIADNE, dsb.
(4) Tahun 1999 sebagai tahun Aplikasi E-learning berbasis Web. Perkembangan LMS menuju aplikasi e-learning berbasis Web berkembang secara total, baik untuk pembelajar (learner) maupun administrasi belajar mengajarnya. LMS mulai digabungkan dengan situs-situs informasi, majalah, dan surat kabar. Isinya juga semakin kaya dengan perpaduan multimedia , video streaming, serta penampilan interaktif dalam berbagai pilihan format data yang lebih standar, dan berukuran kecil.
Materi sebuah pembelajaran di internet memang semestinya dikemas sedemikian rupa sehingga memudahkan warga belajar untuk berinteraksi dalam mendapatkan ilmu dan pemahaman terhadap bidang ilmu tertentu.
Sebagai contoh adalah tentang pembelajaran Fisika. Dalam bidang ini, dapat digambarkan tentang materi dan esensi tentang fisika. Animasi suatu proses fisika, rumusan dan beberapa soal latihan, baik itu essay maupun pilihan ganda, dapat disertakan dalam pembelajaran. Materi berupa animasi yang dapat bekerja secara interaktif akan sangat membantu untuk memahami pokok bahasan. Forum bahasan seputar fisika pun sangat penting sebagai ajang tanya jawab yang bersifat multi sumber, artinya banyak penanya dan banyak penjawab.
Menurut Dr. Ir. Syaad Patmanthara, seorang pakar e-learning yang sekaligus Doktor Teknologi Pembelajaran di Universitas Negeri Malang, mengungkapkan bahwa konten sebuah e-learning atau pembelajaran di internet haruslah berifat interaktif, mudah dimengerti dan menarik, bukanlah buku yang di online-kan. Unsur belajar mengajar masih harus terlibat di dalamnya.
Seiring dengan hal tersebut Herman D. Surjono, Ph.D., Kapuskom sekaligus pakar e-learning dari Universitas Negeri Jogjakarta juga menyampaikan bahwa materi pembelajaran di internet haruslah mengandung unsur interaktif dan dikemas se-efisien mungkin. Tentang materi dapat dikembangkan sesuai kaidah dan kisi-kisi yang berlaku dengan tetap melibatkan unsur-unsur aktif, terintegrasi, kolaborasi, kreatif, dan dapat dievaluasi. [Penulis : Dhega Febiharsa]

(Tulisan ini telah diterbitkan dalam majalah eduBENCHMARK)

Pin It

2 thoughts on “Materi Pembelajaran di Internet, Apa dan Bagaimana?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *